Sajak-sajak

CORETAN

Alangkah mulianya engkau
Nirwana senantiasa dilangkahmu
Dalam tiap pagi dan malam
Antara sukacita dan kesedihan
Nampak kesenduan di raut mukamu
Goresan-goresan tua telah nampak
Fikiranmu selalu melayang jauh
Iringi anak-anakmu
Rebah dipelukan dunia
Dunia yang penuh tanda tanya
Inti kehidupan sudah menjadi nyata
Antara surga dan neraka
Namun apa daya
Semuanya tinggal ilusi
Yang kau butuhkan hanya perhatian
Akan kuberikan apapun itu
Hanya untukmu, Ibu..


BUAH HATI

Ingatlah
Ketika engkau sedih
Ketika engkau bahagia
Agar kami merasakan
Apa yang engkau rasakan
Di dalam sanubari
Selalu ada
Putra-putrimu, ini..


KEGIATAN

Sebelum subuh
Engkau beranjak dari ranjang
Membangunkan anak-anakmu
Untuk menyegerakan bersembahyang
Pagimu dihiasi senyuman
Menyiapkan segelas teh hangat
Sebagai kado pagi,
Engkau buka jendela
Memandang merahnya langit timur
Menyapa mentari yang berkharisma
Menyapa embun dan daun-daun
Membuat burung-burung bernyanyi
Menyanyikan nada kasih sayang
Memberi kegembiraan
Diantara derita
Hanya engkau yang bisa
Ibuku sayang..


TIDAK RELA

Di gelapnya malam
Di sunyinya siang
Pengawasanmu tiada henti
Demi menghindari
Suatu yang tak dinanti
Yang kiranya akan menimpa kami
Meski itu seekor nyamuk kecil
Itulah sedikit yang kutahu, darimu..


SEBUAH SAJAK I

kubuka jendela kamar
ketika kulihat mentari
menyapaku dengan senyumnya yang khas
kecerahannya terukir lembut di timur ufuk
teringat senyummu
senyum manismu
yang tersempit mungil dibibir
selalu menjadi inspirasiku
selalu menjadi teman
dalam pengantar tidurku
ingin sekali hati ini
memilikimu selamanya
namun apakah itu bisa terjadi?
ataukah hanya menjadi sebuah ironi?
karena diri ini terlampau malu
untuk mengatakan
"aku sayang padamu"


SEBUAH SAJAK II

matahari menyingsing sepoi-sepoi
memecah kabut pekat berperi
menyeruak gelombang pantai sunyi
menampakkan embun pagi berseri
membuat rasa hati ini
begitu bersemangat menjalani
hari-hari penuh arti
untuk diri ini
untuk dia yang ada dihati
untuk dia yang sangat berarti
semoga ini menjadi
sebuah awal indah hidup ini


SUATU SENJA DI BATAS DESA

Anak-anak kecil berlarian saling mengejar
Disamping irigasi sawah sesekali mereka
Memercikkan air kemuka
Para petani bersiap pulang dari tempat kerja
Sepetak sawah yang menjadi gantungan hidup
Dan, kerbau-kerbau pembajak
Telah kenyang akan daun ilalang
Para pekerja, berbondong melewati
Jalan kecil penghubung dua desa
Wajah kusam asap pabrik
Membumbung, terlihat dari kejauhan
Para penyair membuat syair
Sebuah syair kehidupan


WARNA

Merah, engkau bilang
Hijau muda, aku bilang
Aku kurang suka warna merah
Tapi, mengapa engkau suka ?
Ah, itulah hidup
Ada perbedaan, pikirku


KELUH-KESAH

Terpancar dari rona mukamu
Sebuah pancaran indah wajah surgawi
Nampak engkau seperti bidadari
Yang aku anggap
Sebagai anugerah illahi
Namun, ketika hati ini mulai terasa
Ada hal aneh yang mulai ada
Mengapa engkau tak seperti dulu
Saling bercengkrama lewat perantara
Berkomunikasi tiada tara
Kepadaku


PERCAYA PADAMU

Saat aku bertanya suatu hal padamu
Singkat, itulah jawabanmu
Sering kali kita miskomunikasi
Kau kirim perkataan diluar pembicaraan
Mulai aku menduga-duga
Apa yang sedang terjadi disana
Namun kupikir tiada guna
Atas apa dugaanku itu
Karena aku, percaya padamu


SEBUAH PESAN

suatu sore dihari itu
aku terima sebuah pesan singkat darimu
setelah percakapan kita sebelumnya
kau bilang, ingin katakan sesuatu
ya, aku mempersilahkan
“jangan tertawa ya?” pintamu
“aku sayang kamu” katamu


PEMBAWA KESEDIHAN

Dikala langit mulai gelap
Angin sepoi menjadi ribut
Hewan-hewan berebut jalan pulang
Bersembunyi dibalik tembok bangunan
Semua orang enggan keluar
Dibalik lebarnya sayap hitam
Sayap-sayap kesenduan
Sayap-sayap kesedihan

CML, 5 desember 2010 (17:00 WIB)

2 komentar: